Jumat, 13 Agustus 2010

Menjaga Hati

MENJAGA HATI

Jagalah hati jangan kau kotori

Jagalah hati lentera hidup ini

Jagalah hati jangan kau nodai

Jagalah hati cahaya ilahi …

Begitulah lirik yang biasa kita dengar pada masa puasa ini. Dari tiap lirik yang dialunkan mengingatkan kita pada satu hal, yakni pentingnya menjaga hati kita. Untuk lebih memfokuskan coretan saya kali ini, secara khusus, hati disini saya maksudkan pada perasaan yang bersumber dari hasil pemikiran dan ebiasaan. Ada sebuah kisah nyata yang tragis. Seorang suami pulang dari ladangnya dalam kondisi lelah dan letih. Saat itu, dia menemukan istrinya tidak ada dirumah. Sementara itu, bayi mereka yang baru berusia beberapa minggu menangis keras.

Dia memanggil-manggil istrinya. Namun, ada jawaban. Diapun dengan kesal mencoba menenangkan bayinya. Akan tetapi, bukanya makin tenang, suara si bayi justru makin keras. Si suami kembali berteriak memanggil si istri. Namun nol jawaban. Tangisan si bayo semakin menjadi-jadi. Akhirnya, kemaran dan kejengkelan suami kepada istri dan si bayi semakin meledak. Diapun mulai berpikir, “ menggangu dan menjengkelkan sekali bayi ini.” Dalam kondisi kesal. Si suami itu mengambil si bayi dan membungkus dengan kain lampinya. Langsung saja dia memegang bayi yang berteriak-teriak itu. Dia pun pergi ke samping rumah dan mengambil cangkul. Lalu, bayinya di kubur hidup-hidup. Ketika istrinya tiba di rumah, betapa kagetnya saat dia tahu bayinya sudah terkubur. Suaminya sempat menyesak karena khilaf. Namun, dia tetap harus menerima ganjaranya, yakni di penjara akibat perbuatanya yang tidak sempat berpikir jernih sesaat sebelum bertindak.

Sungguh ironis. Saya teringat salah konsep dalam kecerdasan emosi yang disebut proses Think-Feel-Act. Sang suami berpikir bahwa si istri melalaikan tanggung jawabnya, sementara dia sudah letih. Di sisi lain, diapun berpikir betapa menjengkelkan dan susah diaturnya bayi ini. “ sudah di tenangkan ko gak mau diam”, begitu kurang lebih pikiranya. Maka, tanpa memikirkan lebih panjang lagi akibat dari tindakanya dia pun melakukan hal yang mengerikan, yakni membunuh bayinya sendiri. Si suami baru saja mengalami kelepasan emosi. Sayangnya dia tidak mencoba menenangakan diri sebelum bertindak. Kisah ini sebetulnya mengajarkan kita satu hal penting, yakni pentingnya pause sebalum bertindak. Hal kedua adalah soal bagaimana kebiasaan kita dalam melatih pikiran kita, akan banyak berpengaruh terhadap kualitas’ hati ‘ dan tindakan kita setiap hari.

Kini, pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana kita mulai belajar lebih bisa menekan tombol pause pada diri kita dan melatih kebiasaan berpikir yang lebih jernih sebelum bertindak… ?

PEMBATASAN

Pertama adalah membatasi hal-hal yang dikomsumsi oleh pikiran kita setiap harinya. Kenapa hal ini perlu mendapatkan perhatian ? Alasanya sederhana. Karena, semua proses di otak kita bermula dari pengindraan kita. Itulah sebabnya, penting sekali membatasi apa yang kita lihat, kita dengar ataupun kita pergunjingkan setiap harinya. Kenyataan menunjukan semakin banyak kita di ekspos dengan sesuatu yang negative, semakin lama batas menoleransikan diri terhadap hal-hal yang negative akan semakin tinggi. Dengan kata lain, kita menjadi semakin ‘ terbiasa ‘ mulai akan menganggap hal tersebut, jika terus menerus kita menerima hal-hal yang negative. Jangankan anak kecil anak dewasa pun demikian.

Satu kasus heboh beberapa tahun lalu ketika acar smack down masih sering di putar di televisi. Ada seorang siswa SMP yang notabene telah masuk dalam usia remaja, melihat tontonan gulat tersebut. Lantas, mereka pun mempraktekan gaya gulat mereka di atas meja kelas yang sempit dan mulailah dia membanting temanya, hingga tangan temanya itu patah. Dengan demikian, rasanya tidak salah kita menjaga hati harus pertama-tama di mulai dengan menjaga komsumsi indara kita setiap harinya. Bicara soal ini pun, saya teringat soal patung tiga ekor monyet dengan berbagai posisi yang menasehati kita soal pengendalian indra, “ see no evil, hear no evil, speak no evil” ( tidak melihat yang jelek, tidak mendengar yang jelak, tidak berkata yang jelek ).

Hal kedua yang juga sama pentingnya adalah menjaga lingkungan pergaulan kita. Misalkan saja sudah banyak terjadi kasus alkoholik dan narkoba yang di mulai dari lingkungan pergaulan yang salah. Begitu pula, beberapa anak remaja yang awalnya baik-baik, mulai berani melawan orang tuanya, karena mendengar dari teman-temanya cara mereka yang terbiasa bersikap menentang orang tuanya dengan kasar. Hal ini menunjukan bahwa lingkungan pergaulan kita dengan cepat bisa ‘ menginduksi’ atau mempengaruhi kita. Lama kelamaan, karena terpengaruh kebiasaan dan cara bersikap dari teman-teman kita, kita pun mulai mengadopsi teman pola pikir dan bersikap seperti mereka.

Syukur-syukur kalu lingkungan pergaulan kita bagus, kita pun terpengaruh jadi bagus. Namun, tatkala lingkunganya jelak lama kelamaan lingkungan akan mempengaruhi. Demikianlah kalau kita bisa mengibaratkan diri seperti air mengalir. Kita di karuniai kebebsan untuk menentukan kea rah mana air itu akan mengalir. Air itu bisa menjadi keruh, hitam, dan kotor karena di biarkan mengalir ke tempat-tempat yang kotor. Namun, ia bisa tetap terjaga kejernihanya jika terawat dan hanya melewati tempat-tempat yang bersih. Karena itulah, kita perlu membawa hati kita ke tempat yang bersih agar kemurnianya bisa tetap terjaga.

Karena hati adalah lentera hidup ini ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About this blog

Introduction

clock

shoutmix pon'ip


ShoutMix chat widget
Powered By Blogger

Twitter

About Me

Foto saya
baik hati dan sombong , jujur serta bijaksana . . .